Sejarah

Awal pendidikan dermatologi di Surabaya di mulai saat diresmikan N.I.A.S (Nederlandsch Indische Artsen School) oleh Gubernur Iendral Hindia Belanda. Saat itu mata aj ar penyakit kulit dan kelamin (Huid en Geslachts ziekten) diberikan pada mahasiswa NIAS tingkat VLVII dan VIIB/semi-artsen, sedangkan co-schap di dermatologi selama 6 minggu dan ujian pada hari Senin.

Masa co-schap dilaksanakan di Departemen Dermatologi (Dermatologie afleding) di CBZ Simpang yang terdiri dari 2 “zaalf yaitu Zaal laki-laki dan zaal perempuan. Pada masa itu, tidakjelas siapa pemimpin Departemen Dermatologi. Pada tahun 1923, Dr. Soetomo diangkat sebagai “Leraar” (dosen) NIASo1eh pemerintah Hindia Belanda dan merupakan pribumi pertama yangmemberikan kuliah di bidang Dermato-Venereologi di Surabaya. Dr. Soetomo meninggal dunia pada tahun 1938 dan dimakamkan di Il. Bubutan Surabaya. Pada tahun yang sama, dimulailah pembangunan RS di kompleks Karang Menjangan. Atas jasa-jasa Dr. Soetomo, beliau diangkat sebagaipahlawan nasional dan pada akhirnya namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit di Surabaya yaitu RSUD Dr. Soetomo.

Pada masa kependudukan Iepang ditahun 1942, sekolah NIAS ditutup. Bagian Penyakit Kulit dan Kelamin RS Simpang dijalankan oleh Dr. M. Soetopo dan Dr. K. Loedin beserta stafnya. Pada tahun 1948 pemerintah Belanda membuka “Faculteit der Geeskunde” cabang Surabaya, yang kemudian berubah menjadi Fakultet Kedokteran Surabaia (FKS) dengan Dr. K. Loedin sebagai dosennya.

Pada tahun 1951, RS Simpang dipindah ke Karang Menjangan. Dr. K. Loedin menjabat sebagai Kepala Bagian hingga akhirnya beliau diangkat sebagai Guru Besar oleh FKS di tahun 1954. Pada tahun 1954, Presiden Soekarno meresmikan Universitas Airlangga (UNAIR) dan Fakultas Kedokteran masuk di dalamnya. Prof. K. Loedin menjalani masa pensiun tahun 1963.

Saat Prof. K. Loedin pensiun, Dr. Moch. Ibeni Ilyas diangkat menjadi Pejabat Kepala Bagian, dan tahun 1964 resmi menjadi Pengatur Kepala Bagian. Sejak itulah, usaha pengembangan bagian mulai dirintis antara lain upgrade tenaga kerja, mengatur jadwal kuliah mahasiswa dan pembinaan dokter muda, penetapan kriteria penerimaan asisten ahli serta pembuatan kurikulum pendidikan. Pada tahun 1978, Dr. Moch. Ibeni Illias dikukuhkan sebagai Guru Besar. Tahun 1981 struktur organisasi seksi-seksi Bagian Kulit dan Kelamin dipertegas, antara lain Dermatologi Umum, Imunologi/Alergi Kulit, Dermato-patologi, Mikologi, Kusta, STD, Bedah Kulit/Tumor, Kosmetik Medis.

Saat Prof. Dr. Moch Ibeni Ilias menjalani masa pensiun, Dr. Hari Sukanto, Sp.KK(K) diangkat menjadi Ketua Dept/SMP tahun 1993-1997. Pada masa kepemimpinan beliau, dilakukan penyempurnaan jenjang program pendidikan PPDS I, seperti chief jaga I dan jaga II. Pada tahun 1997-2006 Prof Dr. Barakbah, Sp,KK(K) diangkat menjadi Kepala Dept/ SMF. Pada masabe1iau,terdapat beberapa pengembangan seperti dibentuknya divisi baru, yaitu divisi Dermatologi Anak, serta pelayanan di bidang kosmetik ditingkatkan, dengan adanya pelayanan chemical peeling dan mikrodermabrasi. Di bidang pendidikan, ujian seleksi PPDS I mulai dilaksanakan ujian tulis dan wawan cara, serta melibatkan pihak fakultas dan universitas. Prof. Dr. Hari Sukanto Sp.KK(K) kembali menjabat sebagai Ketua Dept/ SMF tahun 2006-2010. Pada masa kepemimpinan ini, dilakukan penyempurnaan program pendi- dikan PPDS I dengan perubahan yang disesuaikan dengan kolegium; pengembangan dan pelayanan kosmetik (misal Laser) mulai dilakukan.Se1ain itu, divisi kosmetik berkembang menjadi divisi kosmetik medik. Dr. Iskandar Zulkarnain, Sp.KK(K) yang menjadi Ketua Dept/SMF pada tahun 2011. Pada masa kepemimpinan beliau program PPDS disesuaikan dengan kebutuhan Peraturan Menteri Kesehatan/Tugas Belajar, sehingga masa pendidikan lebih singkat dengan tidak mengabaikan katalog pendidikan kolegium. Selain itu penjajakan staf exchange dengan luar negeri untuk memperluas kawasan/pengalaman staf juga ditingkatkan. Pada masa kepemimpinan beliau juga dilakukan pembangunan mushola yang bertempat di Dept/ SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin.

Belakangan, sisi dermatologi Iebih berkembang secara ekonomis daripada sisi venereologi. Bertebaran berbagai klinik kecantikan yang memanfaatkan jasa para dermatologis. Sementara, perawatan penyakit kelamin masih terpusat di rumah-rumah sakit besar. Meski demikian, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin tetap dikembangkan bersama di FKUA/RSUD Dr. Soetomo. Departemen Kulit dan Kelamin ditujukan membantu pasien yang memiliki permasalahan kulit, kecantikan dan penyakit kelamin.

Departemen Ilmu Kulit dan Kelamin di FKUA dikembangkan menjadi 10 sub-bagian, yakni; Dermatologi Umum, Dermatologi Pediatrik, Dermatologi Kosmetik, Dermatologi Geriatrik, Dermatomikologi, Dermatopatologi, InfeksiMenu1ar Seksual, Tumor dan Bedah Kulit, Alergi Imunologi dan Morbus Hansen.